Tempat Wisata di Kota Jogja (Sekitar Maliboro)

www.josephcphillips.comTempat Wisata di Kota Jogja (Sekitar Maliboro). Tempat wisata yang berjejer di Kota Jogja akan membuat kamu kangen dan menikmati suasana Jogja. Seperti lagu berikut:

“Aku akan kangen dan dibawa pergi” “Saat kita sering menghabiskan waktu” “Nikmati suasana Jogja bersama …”

Syair lagu Yogyakarta milik proyek KLA berhasil menggambarkan keinginan untuk kembali ke Jogja. Suasananya yang unik jauh dari tradisi sehingga siapa pun akan melewatkan kesempatan untuk kembali ke Jogja.

Yogyakarta, atau lebih dikenal dengan Yogyakarta, adalah ibu kota dan pusat pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota ini masih menjadi ikon budaya dan masih menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional dalam kehidupan sehari-hari.

Keistimewaan Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan tidak terlepas dari sejarah masa lalu. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan sistem pemerintahan baru yang dulunya berbentuk Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sebagai pusat budaya, Craton telah dilestarikan hingga saat ini dan memiliki dampak yang cukup besar pada kehidupan masyarakat yang begitu dinamis. Kata-kata yang sarat makna filosofis dan nilai-nilai luhur berupa mata kuliah kehidupan yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

Kota Yogyakarta menyatu dengan provinsi DIY lainnya, dan batas administratifnya tidak jelas. Sebelah utara, barat, dan timur Yogyakarta berbatasan dengan Yogyakarta (Kabupaten Sleman), sedangkan di selatan berbatasan dengan Kabupaten Bantul (Kabupaten Bantul).

Yogyakarta juga dikenal sebagai “Kota Pelajar” dan kota ini memiliki tidak kurang dari 137 universitas. Salah satu universitas top terpopuler adalah Universitas Gaha Damada yang merupakan salah satu universitas tertua di Indonesia.

Baca Juga: 10 Tempat Wisata Terhits dan Terbaru di Malang

Kota yang juga dikenal dengan ciri khas Kota Gudeg ini tidak hanya menjadi tempat menginap yang nyaman, tetapi juga memiliki potensi wisata yang cukup besar. Di kota Yogyakarta, wisata sejarah, budaya dan pendidikan mendominasi.

Meski lebih didominasi oleh destinasi wisata sejarah, budaya dan pendidikan, beberapa tempat wisata di Kota Yogyakarta DIY juga memberikan perasaan liburan yang seru dan menyenangkan.

Untuk memuaskan hasrat Anda akan kota Jogja, berikut beberapa tempat wisata Yogyakarta di Yogyakarta yang bisa Anda kunjungi selama liburan.

  1. Tugu Jogja

Tugu Jogja adalah landmark paling terkenal di Yogyakarta. Monumen tersebut berada di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro. Tugu Jogja yang memiliki sejarah kurang lebih 3 abad memiliki makna yang sangat luas dan menyimpan beberapa catatan sejarah kota Yogyakarta.

Totem Jogja (Tugu Jogja) didirikan setahun setelah berdirinya Cotton Yogyakarta. Bangunan tersebut dengan jelas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti pada awal pendiriannya, yaitu persatuan rakyat dan penguasa melawan penjajahan. Bangunan monumen tersebut secara jelas merupakan perwujudan semangat kebersamaan atau biasa disebut golong gilig.Pilar tersebut berbentuk gilig (silinder) dan bagian atasnya berbentuk golong (lingkaran), sehingga dinamakan Golong- Monumen Jilige.

Secara detail, bangunan asli Tugu Jogja berupa batang silinder yang meruncing ke atas. Bagian bawah berupa pagar melingkar, dan bagian atas berupa pagar melingkar. Awalnya, tinggi tugu adalah 25 meter.

Pada 10 Juni 1867, segalanya berubah. Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu meruntuhkan bangunan monumen. Dapat dikatakan bahwa ketika tugu runtuh, itu adalah keadaan transisi, dan makna persatuan tidak sepenuhnya tercermin dalam bangunan tugu.

Pada tahun 1889, pemerintah Belanda merenovasi monumen ini, dan situasinya berubah. Monumen ini terbuat dari bujur sangkar dan dihiasi dengan prasasti di setiap sisinya untuk menunjukkan siapa yang ikut serta dalam renovasi. Bagian atas tugu tidak lagi bulat, melainkan memiliki kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga rendah, hanya 15 atau 10 meter lebih rendah dari bangunan aslinya.

Renovasi bangunan sebenarnya merupakan strategi Belanda yang berupaya melemahkan persatuan antara rakyat dan raja. Namun, dari pergulatan rakyat Yogyakarta dan raja yang terjadi selanjutnya, terlihat bahwa upaya tersebut tidak berhasil.

Jika Anda ingin mengenang makna filosofis Tugu Jogja, sekaligus mengenang makna filosofisnya, Anda bisa menghadap bangku tugu di sudut Jl. 05.00-06.00 pagi adalah waktu yang tepat untuk Raja G. Saat ini udara masih segar dan tidak banyak kendaraan bermotor yang melintas. Dari waktu ke waktu, Anda akan menerima senyuman ramah dari juru kiriman koran yang dikirim ke kantor distribusi harian Kedaulatan Rakyat.

Status Tugu Jogja di Kota Yogyakarta membuat banyak pelajar luar negeri mengekspresikan kegembiraannya dengan memeluk atau mencium Tugu Jogja setelah lulus kuliah. Mungkin ini juga yang mengungkapkan kecintaannya pada kota Yogyakarta yang hampir putus asa, dan berjanji akan mengunjungi kota tercinta ini lagi suatu saat nanti.

  1. Alun-alun kidul

Tentu sayang jika bermalam di hotel saat berwisata. Dan kami berada di Yogyakarta. Ada beberapa tempat wisata di kota ini yang dapat memberikan kenyamanan dan keinginan Anda. Salah satunya adalah Alun-Alun Kidul atau Alun-Alun Selatan. Kenapa disebut Kidul atau Kidul? Hal ini dikarenakan letak Alun-Alun Kidul berada di sebelah selatan Keraton Yogyakarta, berbeda dengan Alun-Alun Lor di sebelah utara Keraton.

Untuk bisa mencapai Alun-Alun Kidul, kita hanya perlu menempuh nol kilometer ke selatan lewat Jl. Wigeland. Untuk membedakan Alun Lor dengan Alun-Alun Kidul kita hanya perlu melihat bagian tengah lapangan saja. Sesampainya di Alun-Alun Kidul, kita hanya perlu memastikan bahwa kita bisa menemukan dua pohon beringin di tengah lapangan. Saat kita sampai di Alun-Alun Kidul, kita pasti akan melihat dua pohon beringin. Jika Anda masih tersesat, jangan panik. Di Yogyakarta, segala permasalahan wisatawan akan mendapat solusi ramah dari warga sekitar.

Dua pohon beringin di tengah alun-alun menjadi simbol khusus Alkid. Permainan memasuki ruang antara dua pohon beringin merupakan permainan rakyat Jogja yang paling populer.

Alun-alun Kidul dulunya digunakan sebagai arena uji ketangkasan prajurit istana, kini telah menjadi tempat umum bagi masyarakat dan wisatawan lokal. Alun-Alun Kidu di Yogyakarta dikenal sebagai Alkid dan dianggap sebagai tempat peristirahatan para dewa. Oleh karena itu, alun-alun saat ini banyak digunakan oleh banyak orang sebagai tempat untuk menghibur atau menyejukkan hati banyak orang. Saat ini, Alkid merupakan kawasan terbuka dan berfungsi sebagai ruang publik dan tempat hiburan bagi masyarakat. Tentunya sebagai tempat umum dalam mengunjungi Alun-Alun Kidul atau yang biasa dikenal dengan Alkid kita tidak diharuskan membayar santunan sama sekali. Kita hanya perlu membawa pakaian hangat secukupnya untuk menahan angin malam, dan kita juga bisa mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli berbagai jajanan disana.

  1. Titik nol kilometer

Titik nol atau disebut juga lokasi nol kilometer adalah lokasi di mana jarak biasanya diukur. Biasanya di pusat kota atau pusat negara tertentu. Selain itu, istilah “nol kilometer” juga digunakan untuk marka jalan. Oleh karena itu, tidak jarang jalan perkotaan tertentu memiliki kilometer sendiri-sendiri. Di lokasi nol kilometer biasanya digunakan tugu atau marka sebagai pusat kota. Berbeda dengan Jogja, Jogja Zero sering dijadikan sebagai tempat wisata.

Banyak orang yang bingung dengan titik nol Jogja, keraton Yogyakarta yang mereka anggap titik nol. Sebagian orang mengira Tugu Yogyakarta atau Tugu Pal Putih adalah titik nol kilometer dari Yogyakarta. Beberapa orang bahkan mengira Arun-Arun Northern Plaza dan Banyan Tree di tengah kota Yogyakarta. Namun nyatanya, Zona Nol Yogyakarta berada di depan bekas gedung Senisono yang terdapat papan peringatan resmi. Tepatnya, titik tersebut terletak di sekitar persimpangan jalan di sekitar gedung. Sekitar tahun 70-an atau 80-an, ada air mancur di tengah perempatan. Air mancur tersebut diduga merupakan titik nol kilometer Kota Yogyakarta. Bisa dibilang Horizon merupakan kawasan wisata sejarah dengan banyak bangunan bersejarah di sekitarnya. Selain karena letaknya yang strategis, Cakrawala Yogyakarta juga menjadi pusat perekonomian masyarakat Yogyakarta.

Lokasi tempat

Lokasi administratif Titik Nol Yogya adalah Jalan Margo Mulyo No. 9, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta. Paling baik menikmati tempat wisata ini pada sore atau malam hari karena suasana disini sesuai dan mendukung. Karena lokasi ini juga terletak di tengah kota dan memiliki kepentingan strategis, banyak cara untuk mencapai tempat ini. Mulailah menggunakan rental mobil dari angkutan umum, seperti menggunakan jasa rental mobil di Yogyakarta. Bagi yang sedang tidak berada di dalam kota bisa menggunakan jasa sewa mobil di Yogyakarta. Dengan menggunakan jasa sewa mobil, Anda tidak perlu mempertimbangkan biaya lain seperti biaya jasa.

Baca Juga: 13 Danau Terindah Di Indonesia Yang Wajib Kalian Datangi

  1. Taman sari

Jika Anda berencana untuk menghabiskan liburan di Yogyakarta, Anda harus memasukkan Istana Air Taman Sari ke dalam itinerary Anda. Seperti namanya, tempat ini berbentuk istana terapung dan pernah digunakan sebagai tempat hiburan keluarga kerajaan.

Objek wisata ini merupakan bagian dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dulunya tempat ini merupakan taman dengan luas sekitar 10 hektar, dibangun pada masa Sultan Hamen Kubuwani I. Bangunan ini digunakan dari tahun 1765 hingga 1812.

Ada sekitar 57 bangunan di dalamnya, termasuk bangunan, jembatan gantung, kolam renang, kanal, danau dan pulau buatan, lorong bawah air, kanal, dll. Bangunan-bangunan tersebut sudah tidak lengkap lagi, bahkan beberapa tempat telah dialihfungsikan menjadi tempat tinggal abdi dalem keraton Yogyakarta.

Meski Taman Sari masih menjadi bagian dari keraton, arsitekturnya berbeda dengan keraton. Bangunannya dirancang oleh arsitek Portugis Demang Tegis, sehingga gayanya merupakan perpaduan gaya Jawa dan Portugis.

Meski tidak utuh, namun reruntuhan bangunannya tetap menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara, sehingga Taman Sari juga layak dikunjungi di Yogyakarta. Karena signifikansi sejarah bangunannya, Taman Sari Jogja sering dijadikan sebagai objek wisata edukasi.

Maka dari itu, selain bisa menikmati keindahan tempat ini, Anda juga bisa mencari informasi masa lalu. Supaya kamu makin percaya diri berkunjung ke Taman Sari Jogja, yuk simak informasi lebih lengkapnya di bawah ini!

Lokasi tempat

Taman Sari Jogja terletak di Jalan Tamanan, Patham, Kecamatan Kraton, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya yang strategis dan dapat memudahkan wisatawan untuk mengunjungi tempat ini.

Jika ingin masuk ke tempat ini, mohon siapkan tiket wisata lokal sebesar Rp7.500,00. Sedangkan turis asing akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp15.000,00. Pengunjung yang membawa kamera akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp3.000,00.

Jika Anda ingin menggunakan jasa pemandu wisata, Anda hanya perlu menaikkan Rp 25.000-Rp 30.000. Faktanya, panduan ini tidak memiliki harga resmi. Namun, biasanya wisatawan membayar dalam kisaran harga ini.

Panduan ini akan merinci Taman Sari dan sejarahnya. Pastikan panduan Anda memiliki lisensi untuk memastikan bahwa informasi yang diberikan akurat.

Selain pemandu wisata, Taman Sari juga dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Ini termasuk tempat parkir, toilet dan toko suvenir. Jika Anda membawa kendaraan roda dua, Anda akan dikenakan biaya parkir sebesar Rp2.000, dan biaya parkir sebesar Rp5.000.

Tidak ada warung atau tempat makan di tempat wisata ini. Oleh karena itu, jika ingin perut kenyang, pertimbangkan lokasinya yang strategis di pusat kota dan dengan mudah menemukannya di dekat tempat wisata.

Anda bisa mengunjungi situs bersejarah ini mulai pukul 09.00-15.00 setiap hari. Perlu diingat bahwa harga tiket bisa berubah sewaktu-waktu, terutama saat hari libur. Oleh karena itu, Anda harus memastikannya telah dikembalikan ke posisi semula.

  1. Jalan malioboro

Jalan Malioboro berjarak 2 kilometer dari garis imajiner Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Konon, jalan ini menghubungkan Gunung Merapi di utara, Keraton Yogyakarta di tengah, dan Pantai Palantritis di selatan.

Di Yogyakarta, Malioboro mungkin terdengar lebih unik dari nama jalan lainnya.

Konon, Malioboro berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya karangan bunga, ada yang menyebut Malioboro berasal dari nama bangsawan Inggris Marlborough.

Secara keseluruhan, Marioboro sebenarnya berasal dari Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, dan Jalan Margo Mulyo.

Ada beberapa monumen bersejarah di kawasan ini, seperti Tugu Yogyakarta, Pasar Belin Haho, dan Benteng Frederick.

Selain itu, Jalan Malioboro juga terkenal dengan pedagang kaki lima khas Yogyakarta, toko suvenir dan kerajinan tangan, serta warung makan Lycean di malam hari yang menjadi tempat berkumpulnya para seniman Yogyakarta.

Banyak juga truk atau becak di jalan satu arah ini, dan biasanya wisatawan menggunakannya untuk berpergian tanpa perlu khawatir lelah.

Jalan Malioboro memang memberikan kehangatan khas kota Yogyakarta.

Selain pemandu wisata, Taman Sari juga dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Ini termasuk tempat parkir, toilet dan toko suvenir. Jika Anda membawa kendaraan roda dua, Anda dikenakan biaya parkir sebesar Rp2.000 dan biaya parkir sebesar Rp5.000.

Tidak ada warung atau tempat makan di objek wisata ini. Oleh karena itu, jika ingin mengenyangkan, mohon pertimbangkan lokasinya yang strategis di pusat kota dan mudah ditemukan di dekat tempat wisata.

Anda bisa mengunjungi situs bersejarah ini mulai pukul 09.00-15.00 setiap hari. Perlu diingat bahwa harga tiket bisa berubah sewaktu-waktu, terutama saat hari libur. Oleh karena itu, Anda harus memastikan bahwa itu telah kembali ke lokasi aslinya.

  1. Musium perjuangan jogjakarta

Jogja memang kawasan yang penuh dengan kisah perjuangan. Deskripsi dari serangkaian peristiwa heroik di Kota Pelajar dapat ditemukan di monumen dan museum. Salah satu tempat wisata yang bisa Anda kunjungi adalah Museum Perjuangan Jogja, sebuah jalan setapak bersejarah dengan arsitektur yang unik.

Lokasinya sangat mudah dijangkau

Museum Perjuangan Jogja tidak jauh dari pusat kota. Teman traveler akan menemukan bangunan unik ini di Jalan Kolonel Sugiono. Lokasinya hanya di sekitar sudut Jokteng Wetan (Jokteng Wetan).

Sangat mudah untuk sampai ke sana. Di depan gedung museum Teman Traveler, kamu akan menemukan halte Trans Jogja. Teman-teman pelancong bisa naik angkutan umum utama Jogja untuk mencapai museum. Anda bisa memilih jurusan dari berbagai arah, seperti Malioboro, Bandara Adi Sucipto dan Terminal Giwangan.

Arsitektur dan relief unik

Bentuk arsitektur Jogja Perjuangan Museum sangat unik. Kubahnya mengingatkan kita pada gimnasium di Roma kuno. Secara eksternal, dinding museum dihiasi dengan relief yang menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia dari masa ke masa.

Mulai dari pembentukan bangsa hingga realisasi berdirinya Boedi Utomo, kemudian rangkaian acara penting lainnya. Beberapa di antaranya adalah “Sumpah Pemuda”, penandatanganan perjanjian pertama dan kedua agresi militer Belanda hingga penyerangan umum pada 1 Maret 1949.

  1. Masjid gedhe kauman

Masjid Gedhe Kauman (Masjid Gedhe Kauman) merupakan salah satu masjid kuno di Indonesia. Wisata Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta ini terletak di sebelah barat Alun-alun Utara Yogyakarta. Kebetulan di Desa Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Yogyakarta. Selain sebagai tempat beribadah, tempat ini juga menjadi tempat wisata religi. Kunjungan ke Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta juga memiliki sejarah tersendiri. Berikut Sejarah Masjid Gedhe Kauman di Jogja.

Bangunan museum terbagi menjadi dua lantai. Peninggalan budaya di lantai satu berkisah tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia edisi kedua dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Di sini, “Youyou Ji” juga bisa melihat warisan Panglima Besar Sudirman saat perang gerilya.

Di sisi lain, banyak faktor penting yang mewarnai peristiwa Rengasdengklok. Salah satunya adalah sofa (tempat tidur)

Dipakai oleh Ir. Saat Soekarno “diculik” oleh seorang pemuda.

Juga akan ada patung beberapa tokoh olahraga nasional yang dipamerkan kepada wisatawan. Beberapa di antaranya adalah pendiri K.H. Ahmad Dahlan (Gerakan Muhammadiyah), dan Dewi Sartika (Dewi Sartika) adalah salah satu pahlawan gerakan perempuan. Tak lupa pengelola juga memajang koleksinya yang menggambarkan perjuangan Jogja selama tiga tahun sebagai ibu kota Republik Indonesia dari tahun 1946 hingga 1949.

  1. Kolam renang umbang tirta

Komentar singkat Umbang Tirta

Kolam renang Umbang Tirta terletak di Stadion Kridosono, stadion tertua di Yogyakarta. Kolam renang ini berukuran 33 x 16 meter dengan kedalaman 1-3 meter, terdapat dua buah kolam renang, satu untuk anak-anak dan satu untuk dewasa.