Perencanaan IPO 2021

www.josephcphillips.comPerencanaan IPO 2021 – Tahun ini, penawaran umum perdana atau penawaran umum perdana di industri perbankan tampak meningkat. Pasalnya, sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bank umum harus memiliki modal inti minimal Rp 2 triliun pada akhir tahun 2021.

Sementara itu, jumlah bank yang masih dalam kelompok “Kegiatan Perbankan Komersial II” masih sangat besar.

Selain itu, banyak bank daerah yang telah memiliki modal inti lebih dari 2 triliun rupiah ingin berbicara di bursa untuk meningkatkan kapabilitas ekspansi di masa depan.

Beberapa dari mereka bahkan merencanakan IPO pada tahun 2020, namun terpaksa mundur karena kondisi pasar yang kurang mendukung. Tahun ini, rencananya akan disiapkan kembali.

PT Bank Fama International saat ini menjadi salah satu perusahaan yang mempersiapkan proses IPO tahun ini. Untuk mencapai modal inti minimal Rp 1 triliun pada akhir tahun 2020, rencana penawaran umum perdana seharusnya dilakukan pada 4 Januari 2021, namun rencana tersebut dibatalkan karena waktu yang cukup untuk menyelesaikannya tepat waktu. 31 Desember.

Sebagai gantinya, pemegang saham pengendali (PSP) yang ada memilih untuk menambah modal. Oleh karena itu, menurut Emil M Ismain, Sekretaris Perusahaan PT Bank Fama Internasional, modal inti perseroan saat ini mencapai Rp1 triliun.

Namun, dia tidak menyebutkan berapa modal PSP yang disuntikkan. Per Juni 2020, modal inti baru mencapai Rp 270,5 miliar.

Rencana IPO akan terus berlanjut hingga mencapai modal inti Rp 2 triliun tahun ini. Namun, berbeda dengan rencana sebelumnya, jumlah saham yang akan diterbitkan akan dibahas kembali.

Sementara itu, dalam prospektus IPO sebelumnya, Bank Fama akan menerbitkan sebanyak 1,31 miliar saham yang merupakan 24% dari modal ditempatkan dan disetor, dengan target harga 298-328 rupee.

Emil mengatakan, pihaknya sedang menjajaki proses IPO dengan beberapa investor strategis. Saat ini, saham Fun Bank dimiliki oleh Junus Jen Suherman 60%, Edi Susanto 20% dan Dewi Janti 20%.

PT Bank Net Indonesia Syariah atau sebelumnya bernama PT Bank Maybank Syariah Indonesia juga mengumumkan akan berpidato di bursa pada 2 Februari.

Baca Juga:

29 Pilihan Bidang Kuliah Terbaik untuk Anak IPS, Komplit dengan Peluang Kerja

Bank akan menerbitkan 5 miliar saham atau setara dengan 37,90% kepemilikan modal disetor setelah saham tersebut diterbitkan secara publik. Dengan menawarkan harga 103-105 rupee per saham, selanjutnya bank akan mendapat Rp 515 miliar-5.250 miliar rupiah.

Di antara bank daerah, PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (Bank Sumut) dan PT Bank Pembangunan Daerah DKI Jakarta (Bank DKI) berencana melakukan IPO tahun ini.

Sementara itu, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) baru saja memasukkan pembahasan riset IPO ke dalam rencana bisnis tahunannya. Namun, jika tidak ada kendala dalam kajian ini, mungkin bisa dilakukan tahun ini.

Syahdan Ridwan, Sekretaris Perusahaan Bank Sumut, mengatakan rencana IPO sebenarnya sudah siap dilaksanakan tahun lalu, namun harus ditunda karena dampak pandemi Covid-19. Bank akan melanjutkan rencana tersebut dengan menerbitkan 20% saham ke publik. Di saat yang sama, target dana masih perlu menunggu keputusan rapat pemegang saham.

Saat ini, Bank Sumut sedang memilih jasa konsultasi untuk membantu perseroan dalam IPO.

Setelah penunjukan selesai, Syahdan melanjutkan dan pihaknya akan menghubungi calon investor. Hingga kuartal III-2020, modal inti Bank Sumut mencapai Rp 3,32 triliun.

Bank Jateng tetap harus melakukan penelitian terkait ketentuan perundang-undangan yang perlu disinkronkan.

Direktur Keuangan Bank Jateng Dwi Agus Pramudya mengatakan sinkronisasi tersebut mencakup ketentuan kepemilikan badan usaha milik daerah (BUMD) daerah, yang dibatasi minimal 51%. Pada saat yang sama, dengan implementasi IPO, kepemilikan pemerintah daerah dapat terdilusi menjadi kurang dari 51%.

Karena itu, Bank Jateng belum bisa memastikan kapan bisa melanjutkan IPO. Devi mengatakan: “Kami belum yakin (untuk saat ini). Selama tidak ada kendala besar, terutama batasan hukum, mungkin tahun ini atau tahun depan.”

Melihat hasil penelitian yang tidak pasti, Bank Jateng juga mengkaji modal alternatif yang belum melakukan penawaran umum perdana, termasuk tambahan modal dari pemegang saham yang ada atau mengundang investor strategis.

Pada saat yang sama, Bank DKI telah melakukan berbagai persiapan IPO pada tahun lalu sesuai rencana semula, seperti penunjukan konsultan notaris dan lembaga pendukung IPO (seperti penjamin emisi (PPE), kuasa hukum, Kantor Akuntan Publik (KAP)).

Arie Rinaldi, Kepala Bagian Hubungan Investor Bank DKI, mengatakan: “Hingga saat ini, rencana tersebut belum terlaksana karena kondisi pasar belum berdampak negatif terhadap pandemi.”

Pada saat yang sama, seluruh dana yang diterima Bank DKI akan digunakan untuk meningkatkan bisnis dan alokasi kredit untuk mengembangkan sistem teknologi informasi.

Buru modal inti Rp 2 triliun, Bank Fama hendak lanjutkan konsep IPO yang tertunda

Penawaran umum perdana (IPO) di industri perbankan nampaknya meningkat tahun ini. Pasalnya, sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bank umum harus memiliki modal inti minimal Rp 2 triliun pada akhir tahun 2021. Sementara itu, jumlah bank yang masih tergabung dalam Kelompok II “Kegiatan Perbankan Komersial” (BUKU) masih sangat besar.

PT Bank Fama International merupakan salah satu institusi yang mengambil langkah untuk berbicara di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini. Langkah ini diambil untuk memenuhi ketentuan modal inti yang ditetapkan oleh regulator.

Rencana IPO yang semestinya digelar Bank Fama pada Desember 2020 dan tercatat di bursa pada 4 Januari 2021 mencapai modal inti minimal Rp 1 triliun.

Namun, rencana tersebut ditunda karena tidak cukup waktu untuk menyelesaikan batas waktu penyerahan modal inti sebelum 31 Desember.

Sekretaris Perusahaan Internasional PT Bank Fama Emil M Ismain mengatakan pada Desember lalu, pemegang saham pengendali (PSP) eksisting menyelesaikan modal inti sebesar Rp1 triliun melalui penyetoran modal.

Namun, dia tidak menyebut jumlah dana yang disuntikkan PSP.

Rencana IPO akan terus berlanjut hingga mencapai modal inti Rp 2 triliun tahun ini. Namun, Emil mengatakan pihaknya belum menentukan jumlah saham yang akan dikeluarkan dalam aksi perseroan tersebut karena saham tersebut masih dalam penghitungan ulang.

Bank Fama juga menjajaki rencana penyerapan saham IPO dengan beberapa investor strategis.

Emil berkata: “Sudah ada beberapa investor dalam perencanaan, nanti akan kami informasikan.”

Sementara itu, dalam prospektus IPO rencana IPO yang sebelumnya ditunda, Bank Fama akan menerbitkan hingga 1,31 miliar saham, yang merupakan 24% dari modal ditempatkan dan disetor.

Penawaran bank berkisar antara 298-Rp 328 per saham, sehingga jika target ini tercapai, pendapatan tunai perseroan akan berkisar antara Rp 391 miliar hingga Rp 430,3 miliar. Binaartha Sekuritas bertindak sebagai penjamin emisi.

Berdasarkan laporan keuangan Juni 2020, pemegang saham Bank Fama antara lain Junus Jen Suherman yang memiliki 60%, Edi Susanto 20% dan Dewi Janti 20%. Selama periode tersebut, modal inti perseroan tetap berada di Rp 270,5 miliar.

Kinerja dan valuasi saham yang semakin berkembang, BEI menyambut baik rencana IPO BUMN

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyambut baik rencana banyaknya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Anak Perusahaan BUMN yang berminat melakukan penawaran umum perdana atau penawaran umum perdana (IPO). Pasalnya, perusahaan induk dan anak perusahaan BUMN yang tercatat di BEI telah menunjukkan kinerja keuangan yang baik.

Direktur Evaluasi BEI I Gede Nyoman Yetna mengungkapkan dari 15 BUMN dan 21 anak perusahaan BUMN yang tercatat di BEI, 5 perusahaan termasuk dalam 20 emiten terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar.

Nyoman mengatakan kepada wartawan melalui pesan teks pada Jumat (5/2): “Sejak penawaran umum perdana, aset, pendapatan, dan laba bersih perusahaan biasa telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.”

Selain itu, dalam jangka panjang, sejak IPO rata-rata valuasi saham BUMN juga terus tumbuh. Padahal, menurut Nyoman, IPO BUMN dan anak usahanya disambut baik oleh investor. Hal ini tercermin dari saham-saham yang diperdagangkan secara aktif.

Menurut data BEI, dalam 9 bulan pertama tahun 2020, 36,13% nilai perdagangan saham BEI berasal dari jual beli saham perusahaan milik negara. Nilai pasar seluruh emiten milik negara juga mencakup 25,8% dari total nilai pasar saham BEI.

Nyoman berharap ke depan, kinerja emiten BUMN terus membaik dengan tetap memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta meningkatkan transparansi kepada investor publik. BEI juga dengan senang hati memberikan dukungan kepada BUMN dan entitasnya untuk informasi IPO melalui kegiatan pendidikan dan bimbingan kepada manajemen dan tim perusahaan.

Selain itu, menurut Nyoman, BUMN dan entitasnya akan memperoleh berbagai keuntungan dengan listing di BEI. Dari sisi korporasi, penawaran umum perdana dapat membantu BUMN memperoleh pendanaan yang berkelanjutan, membangun kemandirian perusahaan, meningkatkan profitabilitas dan efisiensi, serta memperkuat tata kelola perusahaan.

Lalu, bagi pemerintah, lebih banyak lagi perusahaan BUMN yang terdaftar, dan kinerja perusahaan juga akan meningkat. Hal tersebut pada gilirannya akan meningkatkan kontribusi BUMN terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang bersumber dari deviden negara dan pajak.

Menurut data Kementerian BUMN, penerimaan negara BUMN (pembayaran pajak dan dividen) mencapai 280 triliun rupiah pada 2019. Ini setara dengan 18% dari total penerimaan pajak negara sebesar Rp 1.545,3 triliun.

Selain itu, bagi masyarakat luas dan perekonomian nasional, keberadaan BUMN sebagai perusahaan terbuka dapat menjadi sarana untuk mengoptimalkan alokasi sumber daya, menyerap tenaga kerja, dan meratakan kepemilikan BUMN. Sementara untuk pasar modal, IPO BUMN dapat meningkatkan likuiditas dan menambah pilihan investasi bagi investor pasar modal.

Seperti diketahui, Menteri BUMN Erick Thohir sebelumnya telah menyatakan bahwa Kementerian Pemerintah berencana mendaftarkan 8 hingga 12 BUMN antara 2021 hingga 2023.

apalagi Beberapa BUMN mempersiapkan konsep IPO anak upaya

PT Jasamarga Related Business adalah salah satu anak perusahaan BU Jasamarga Related Business yang merupakan anak perusahaan PT Jasa Marga Tbk (JSMR). Sekretaris Perusahaan Jasa Marga Agus Setiawan mengatakan bisnis terkait Jasamarga dinilai perlu untuk terus mengembangkan usahanya, dan perkembangan usahanya membutuhkan peningkatan modal risiko yang dapat diperoleh melalui IPO.

“Selain mendapatkan modal komersial, IPO diharapkan bisa membuat Bisnis Terkait Jasamarga tampil lebih baik karena publik juga memantau kinerjanya.

Sesuai rencana jangka panjang Grup Jasa Marga, Jasamarga Bisnis Terkait berencana menggelar hajatan IPO pada 2023. Bisnis Terkait PTJasamarga mengacu pada situs resminya dan merupakan anak perusahaan yang mendukung bisnis utama dari perusahaan induk (yaitu, pengembangan wilayah). Di sekitar jalan tol. Saat ini, ruang lingkup bisnis PT Jasamarga Related Business cukup luas, meliputi pengembangan real estate, pengembangan dan pengelolaan rest area di seluruh Indonesia, pengelolaan periklanan dan utilitas umum, pengembangan bisnis digital, dan pengelolaan gedung.

Baca Juga:

13 Danau Terindah Di Indonesia Yang Wajib Kalian Datangi

Sekretaris Perusahaan PT Pelindo II Ari Santos mengatakan, secara internal, emiten yang juga dikenal dengan nama Indonesia Port Corporation (IPC) itu telah mempersiapkan IPO beberapa anak usaha. “Namun, waktu pelaksanaannya masih ditinjau dan dikoordinasikan dengan Departemen BUMN, serta memperhatikan kondisi pasar yang belum ditentukan.

Dua anak usaha Pelindo yang diyakini siap bicara di bursa adalah PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) dan PT IPC Terminal Petikemas (TPK). Ari melanjutkan, sembari menunggu pelaksanaan IPO, IPC akan terus meningkatkan kinerja anak usahanya secara internal agar bisa diterima dengan baik oleh pelaku pasar.

Inilah daftar nama BUMN yang berencana melakukan IPO mulai 2021

Kami akan daftarkan lebih banyak BUMN, keturunannya. Dalam pidato pembukaannya di Bursa Efek Indonesia, Eric mengatakan masih dalam perencanaan-saya tidak ingin mengatakan angka pasti akan dikejar-tapi kami akan buka publik 8 sampai 12 angka.

Salah satu anak perusahaan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk salah satu perusahaan yang sudah melakukan IPO sering disebut-sebut oleh Erick Thohir. Yaitu PT Dayamitra Telekomunikasi alias Mitratel.

Anak usaha Telkom di bidang infrastruktur menara telekomunikasi tersebut berencana untuk berbicara di Bursa Efek Indonesia paling cepat pada kuartal terakhir tahun ini.

Telkom Andi Setiawan, Vice President Investor Relation, mengatakan dalam jadwal yang direncanakan perseroan, penawaran umum perdana (IPO) Mitratel bisa dilakukan antara kuartal IV tahun 2021 hingga semester I 2022 dengan tetap memperhatikan kondisi pasar modal. .

Tak hanya itu, PT Fintek Karya Nusantara atau LinkAja, cucu perusahaan telekomunikasi, juga disebut-sebut tengah memasuki pasar modal. Perusahaan financial technology milik Telkom melalui PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) ini berencana melakukan IPO sekitar 1,5 tahun atau 2022.

Direktur Utama dan Direktur Telkomsel Setyanto Hantoro mengatakan pemegang saham, termasuk beberapa BUMN lainnya, terbuka terhadap segala kemungkinan pembiayaan, termasuk penawaran umum perdana.

“Ada rencana [IPO], tapi waktu pastinya belum, lihat dulu kondisinya. Kalau 1,5 tahun mungkin, tapi tidak sekarang,” ujarnya di akhir November 2020.

Selain Telkom, PT Krakatau Steel Tbk. (KRAS) juga berencana melakukan IPO pada beberapa anak usahanya.

Silmy Karim, Presiden Direktur dan Direktur Krakatau Steel, mengatakan beberapa anak usaha dapat melakukan penawaran umum perdana atau IPO pada saat yang tepat.

Di antara lima anak usaha potensial, KRAS berencana mendorong PT Krakatau Tirta Industri (KTI) dan PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) untuk mendapatkan IPO pada 2021.

Silmy (Silmy) Kamis (28/1 / 2021).

Di saat yang sama, banyak BUMN Karya yang juga bersiap mengantar anaknya ke lantai Bursa.

Pada September 2020, PT Hutama Karya (Persero) menyatakan sedang mempersiapkan untuk memperkenalkan tiga anak usahanya PT HK Infrastruktur (HKI), PT HK Realtindo (HKR) dan PT Hakaaston (HKA) untuk IPO.

Sekretaris Perusahaan Hutama Karya M. Fauzan mengatakan kepada Bisnis: “Persiapannya seperti prosedur yang sudah ditetapkan dan masih berjalan sesuai rencana dengan munculnya Covid-19. Rencana IPO diharapkan bisa dilakukan pada 2021 atau 2022.” Pada waktu itu.

Kemudian, PT Adhi Karya (Persero) Tbk juga akan melepas dua anak usahanya yaitu PT Adhi Persada Gedung (AGP) dan PT Adhi Commuter Properti (ACP). Bahkan, ACP berencana untuk berbicara di Bursa Efek Indonesia pada pertengahan tahun 2021.

“Kami perkirakan situasi sudah membaik di bulan April. Dari April hingga Juni, kami akan dapat IPO anak perusahaan PT ACP.” Direktur Keuangan Adhi Karya AA Gede Agung Dharmawan mengatakan pada awal November 2020, kami [Adhi Karya] Masih fokus pada anak-anak, karena sudah waktunya IPO.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk sangat mendukung rencana mendatangkan anak usaha tersebut ke BEI. Kode emiten WIKA pernah berencana meluncurkan PT Wijaya Karya Realty (Wika Realty) untuk rilis publik pertama pada tahun 2020. Namun, itu ditunda karena pandemi.

Dikatakan, selain WIKA Real Estate Company, anak perusahaan lain PT Wijaya Karya Industri & Konstruksi (Wikon) juga bersiap berbicara di Bursa Efek Indonesia. Namun, belum ada informasi lebih lanjut tentang rencana tersebut.

Pada pertengahan September 2020, Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Mahendra Vijaya mengatakan bahwa perseroan sedang mempertimbangkan pandemi Covid-19 dan situasi makroekonomi serta menilai kembali rencana IPO Wika Realty dan Wikon.

Saat itu dia berkata: “Kami belum bisa menentukan waktu.”

Mematuhi WIKA PT PP (Persero) Tbk. Perusahaan yang berencana menggandeng PT PP Infrastruktur berbicara pada 2021 juga telah menunda rencana tersebut karena kondisi pasar yang masih belum pasti pasca pandemi Covid-19.

Emiten berkode saham PTPP itu berharap bisa melepas 30% kepemilikan PP Infrastruktur melalui IPO. Perseroan berharap mendapatkan dana baru mulai dari Rp 1,2 triliun hingga Rp 1,3 triliun.

“Kalau kurang dari 1 triliun rupiah tidak akan ada IPO. Infrastruktur PP terdekat adalah 2022,” jelasnya.

Sementara itu, operator jalan tol milik negara PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Perusahaan berencana untuk membawa anak perusahaan bisnis non-fee ke Bursa Efek Indonesia pada tahun 2023.

Sekretaris Perusahaan Jasa Marga Agus Setiawan mengatakan, rencana penawaran umum perdana usaha terkait PT Jasamarga (JMRB) sudah masuk dalam rencana jangka panjang Jasa Marga.

“Target kami akan IPO JMRB pada 2023. Dana yang terkumpul masih dalam penelitian kami,” kata Argus di akhir November 2020 di Bisnis.

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) mengaku masih melakukan penelitian terkait rencana penerbitan saham dua anak usaha melalui penawaran umum perdana (IPO).

Selain itu, dua badan usaha milik negara lainnya, yakni PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) dan PT Pertamina (Persero), juga menyatakan akan membawa anaknya mencari pendanaan melalui pasar modal.

IPC berencana melepas dua anak usahanya ke publik pada 2020, yakni PT Pelabuhan Tanjung Priok dan PT IPC Terminal Petikemas. Pada saat yang sama, Pertamina menyatakan akan mendatangkan anak usahanya ke bursa pada pertengahan tahun ini.

Nicke Widyawati, Presiden dan Direktur Pertamina, mengatakan: “Pada kuartal ketiga dan keempat, kami akan melakukan IPO di salah satu unit bisnis, dan kedepannya kami juga dapat meningkatkan transparansi dan profesionalisme unit bisnis Pertamina.”